close button

Islam dan Fahaman Pluralisme Agama

Kategori: Umum

Hamid Fahmy

Pemikiran yang menganggap semua agama itu sama telah lama masuk ke Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya. Tapi akhir-akhir ini pikiran itu menjelma menjadi sebuah paham dan gerakan “baru” yang kehadirannya serasa begitu mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Ummat Islam seperti mendapat kerja rumah baru dari luar rumahnya sendiri. Padahal ummat Islam dari sejak dulu hingga kini telah biasa hidup ditengah kebhinekaan atau pluralitas agama dan menerimanya sebagai realitas sosial. Piagam Madinah dengan jelas sekali mengakomodir pluralitas agama saat itu dan para ulama telah pula menjelaskan hukum-hukum terkait. Apa sebenarnya di balik gerakan ini?

Sebenarnya fahaman inipun bukan baru. Akar-akarnya seumur dengan akar modernisme di Barat dan gagasannya timbul dari perspektif dan pengalaman manusia Barat. Namun kalangan ummat Islam pendukung paham ini mencari-cari akarnya dari kondisi masyarakat Islam dan juga ajaran Islam. Kesalahan yang terjadi, akhirnya adalah menganggap realitas kemajmukan (pluralitas) agama-agama dan paham pluralisme agama sebagai sama saja. Parahnya, pluralisme agama malah dianggap realitas dan sunnatullah. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang pertama (pluralitas agama) adalah kondisi dimana berbagai macam agama wujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau Negara. Sedangkan yang kedua (pluralisme agama) adalah suatu paham yang menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi, teologi dan filsafat agama yang berkembang di Barat dan juga agenda penting globalisasi.

Solusi Islam terhadap adanya pluralitas agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum dÊnukum wa liya dÊn). Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada. Jadi menganggap pluralisme agama sebagai sunnatullah adalah klaim yang berlebihan dan tidak benar. Dalam paham pluralisme agama yang berkembang di Barat sendiri terdapat sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda: yaitu paham yang dikenal dengan program teologi global (global theology) dan paham kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of Religions). Kedua aliran ini telah membangun gagasan, konsep dan prinsip masing-masing yang akhirnya menjadi paham yang sistemik. Karena itu yang satu menyalahkan yang lain.

Munculnya kedua aliran diatas juga disebabkan oleh dua motif yang berbeda, meskipun keduanya muncul di Barat dan menjadi tumpuan perhatian masyarakat Barat. Bagi aliran pertama yang umumnya diwarnai oleh kajian sosiologis motif terpentingnya adalah karena tuntutan modernisasi dan globalisasi. Karena pentingnya agama di era globalisasi ini maka hubungan globalisasi dan agama menjadi tema sentral dalam sosiologi agama. Tentang hubungan antara agama dan globalisasi bisa dibaca dari Religion and Globalization, karya Peter Bayer, Islam, Globalization and Postmodernity, karya Akbar S Ahmed dan H. Donnan, The Changing Face of Religion, karya James A Beckford dan Thomas Luckmann atau Religion and Global Order, oleh Ronald Robertson dan WR. Garet.

Nampaknya agama dianggap sebagai kendala bagi program globalisasi. Tidak aneh jika kini seminar tentang dialog antar agama, global ethic, religious dialogue yang diadakan oleh World Council of Religions dan lembaga lain sangat marak diseluruh dunia. Organisasi non pemerintah (NGO) di dunia ketiga pun mendapat kucuran dana dengan mudah. Bukti bahwa Barat berkepentingan dengan paham ini dapat dilihat dari tema yang diangkat jurnal rintisan oleh Zwemmer The Muslim World pada edisi terkininya (volume 94 No.3, tahun 2004). Jurnal missionaris itu menurunkan tema pluralisme agama dengan fokus dialog Islam Kristen. Sudah tentu disitu framework Barat sangat dominan.

Berbeda dari motif aliran pertama yang diwarnai pendekatan sosiologis, motif aliran kedua yang didominasi oleh pendekatan filosofis dan teologis Barat justru kebalikan dari motif aliran pertama. Kalangan filosof dan teolog justru menolak arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung mengetepikan agama itu dengan berusaha mempertahankan tradisi yang terdapat dalam agama-agama itu. Yang pertama memakai pendekatan sosiologis, sedangkan yang kedua memakai pendekatan religious filosofis.

Solusi yang ditawarkan kedua aliran inipun berbeda. Berdasarkan motif sosiologis yang mengusung program globalisasi, aliran pertama menawarkan konsep dunia yang tanpa batas geografis cultural, ideologis, teologis, kepercayaan dan lain-lain. Artinya identitas kultural, kepercayaan dan agama harus dilebur atau disesuaikan dengan zaman modern. Kelompok ini yakin bahwa agama-agama itu berevolusi dan nanti akan saling mendekat yang pada akhirnya tidak akan ada lagi perbedaan antara satu agama dengan lainnya. Agama-agama itu kemudian akan melebur menjadi satu. Berdasarkan asumsi itu maka John Hick, salah satu tokoh terpentingnya, segera memperkenalkan konsep pluralisme agama dengan gagasannya yang ia sebut global theology. Selain Hick diantara tokohnya yang terkenal adalah Wilfred Cantwell Smith, pendiri McGill Islamic Studies. Tokoh-tokoh lain dapat dilihat dari karya Hick berjudul Problems of Religious Pluralism. Pada halaman dedikasi buku ini John Hick menulis yang terjemahannya begini: “Kepada kawan-kawan yang merupakan nabi-nabi pluralisme agama dalam berbagai tradisi mereka: Masau Abe dalam agama Buddha, Hasan Askari dalam Islam, Ramchandra Gandhi dalam agama Hindu, Kushdeva Singh dalam agama Sikh, Wilfred Cantwell Smith dalam agama Kristen dan Leo Trepp dalam agama Yahudi.

Solusi yang ditawarkan oleh aliran kedua adalah pendekatan religious filosofis dan membela eksistensi agama-agama. Bagi kelompok ini agama tidak bisa di rubah begitu saja dengan mengikuti zaman globalisasi, zaman modern ataupun post-modern yang telah meminggirkan agama itu. Agama tidak bisa dilihat hanya dari perspektif sosilogis ataupun histories dan tidak pula dihilangkan identitasnya. Kelompok ini lalu memperkenalkan pendekatan tradisional dan mengangkat konsep-konsep yang diambil secara parallel dari tradisi agama-agama. Salah satu konsep utama kelompok ini adalah konsep sophia perrenis atau dalam bahasa Hindu disebut Sanata Dharma atau dalam Islam disebut al-Íikmah al-khÉlidah. Konsep ini mengandung pandangan bahwa di dalam setiap agama terdapat tradisi-tradisi sakral yang perlu dihidupkan dan dipelihara secara adil, tanpa menganggap salah satunya lebih superior dari pada yang lain. Agama bagi aliran ini adalah bagaikan “jalan-jalan yang mengantarkan ke puncak yang sama” (“all paths lead to the same summit”). Tokoh pencetus dan pendukung paham ini adalah René Guénon (m. 1951), T. S. Eliot (m. 1965), Titus Burckhardt (m. 1984), Fritjhof Schuon (m.1998), Ananda K. Coomaraswamy (m. 1947), Martin Ling, Seyyed Hossein Nasr, Huston Smith, Louis Massignon, Marco Pallis (m. 1989), Henry Corbin, Jean-Louis Michon, Jean Cantein, Victor Danner, Joseph E. Brown, William Stoddart, Lord Northbourne, Gai Eaton, W. N. Perry, G. Durand, E. F. Schumacher, J. Needleman, William C. Chittick dan lain-lain.

Karena keterbatasan ruang ISLAMIA edisi ketiga ini baru dapat menghadirkan kajian kritis terhadap aliran kedua yaitu paham yang mengusung ide kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of Religions). Untuk lebih mengenal asal usul dan konsep dasar paham ini kami hadirkan kajian Adnin Armas terhadap doktrin transendentalis dari penggagas awalnya yaitu Fritjhof Schuon yang diilhami oleh Rene Guenon (baca: Gagasan Frithjof Schuon tentang Titik-Temu Agama-Agama). Disitu ia mengangkat topik tentang metafisika, epistemoligi, pendekatan esoterik dan eksoterik. Schuon yang dikabarkan masuk Islam itu mempunyai pengikut fanatik dari cendekiawan Muslim asal Iran yaitu Seyyed Hossein Nasr. Beliaulah yang menterjemahkan istilah philosophia perrenis itu menjadi al-Íikmah al-khÉlidah. Sebenarnya ide-ide Guenon, Schuon dan Nasr adalah parallel, ketiganya mendukung paham kesatuan transenden agama-agama. Pemikiran pluralis S.H.Nasr ini dikaji secara kritis oleh Dr. Anis Malik Toha (baca: Seyyed Hossein Nasr: Mengusung “Tradisionalisme” Membangun Pluralisme Agama).

Selain itu aspek penting fahaman ini adalah pendekatannya yang diambil dari pengalaman spiritual dari tradisi mistik yang terdapat dalam tradisi agama-agama. Dalam kasus Islam mereka mengambil pengalaman spiritual dari tradisi sufi. Untuk menguji klaim mereka bahwa para sufi itu pluralis Sani Badron mengupas pandangan tokoh Sufi terkenal yang sering mereka kutip, yaitu Ibn ‘Arabi. Kajian langsung terhadap karya-karya utamanya ini mengungkapkan pandangan Ibn ‘Arabi terhadap agama-agama selain Islam. (baca: Ibn ‘Arabi tentang Pluralisme Agama).

Meskipun kajian-kajian diatas telah merespon paham pluralisme agama dengan menggunakan framework pemikiran Islam, namun respon dari sumber yang lebih otoritatif masih diperlukan. Untuk itu kami hadirkan pandangan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang konsep-konsep asas Islam seperti tentang wahyu, tentang Tuhan, tentang konsep tawhid dan lain-lain. Dengan eksposisi konsep-konsep itu al-Attas menyimpulkan bahwa paham pluralisme agama tidak sesuai dengan Islam. Tulisan ini kami cuplik dan terjemahkan dari karya beliau Prolegomena To the Metaphysics of Islam. (baca: Respon Islam terhadap Konsep Kesatuan Agama-agama). Untuk menjelaskan pemikiran al-Attas secara lebih dalam dan luas tentang makna Islam sebagai din kami hadirkan tulisan Dr. Fatimah Abdullah yang berjudul Konsep Islam sebagai Din, Kajian terhadap Pemikiran Prof. Dr.SMN. al-Attas. Sedangkan untuk penjelasan lebih lanjut tentang respon Islam terhadap paham kesatuan transenden agama-agama, kami hadirkan kritik dan analisa Wan Azhar terhadap doktrin Transcendent Unity of Religion (baca: Kesatuan Transenden Agama-agama, Sebuah Respon Awal). Di situ argumentasi Prof. Al-Attas dielaborasi sehingga menjadi lebih jelas.

Dari beberapa kajian diatas barangkali muncul suatu kesan bahwa kritik terhadap paham pluralisme agama cenderung diwarnai oleh sikap anti-Barat. Namun kesan ini nampak tergesa-gesa dan justru nampak lebih cenderung merupakan sikap mental yang ter-Barat kan dari pada obyektif. Sebab paham pluralisme agama yang dibawa oleh arus pemikiran globalisasi Barat modern dan post-modern ternyata juga menuai kritik dari paham pluralisme agama yang dimotivasi oleh keinginan untuk menghidupkan tradisi dalam agama-agama di Timur. Dalam kondisi pemikiran yang problematik ini sangatlah bijaksana jika kita tidak ke Barat dan tidak ke Timur, tapi kembali kepada Islam.

Incoming search terms:

  • pluralisme agama
  • islam dan pluralisme
  • islam pluralisme
  • fahaman pluralisme
  • apa itu pluralisme
  • pluralisme islam
  • apa itu pluralisme agama
  • kesan pluralisme agama
  • apakah pluralisme
  • pluralisme
    11 Sep

    18 Ulasan untuk artikel “Islam dan Fahaman Pluralisme Agama”

    1. M. Baqir/aaqir Says:

      sebelumnya saya menghaturkan salam kenal sama ustazd… saya sangat tertarik dengan ulsan bapak mengenahi pluralisme agama, soalnya gagasan ini pada dewas ini cukup mewarnahi wacana keilmuan, dan mungkin gagasan ini jika tidak di tanggapi dengan cermat dan tidak di klasifikasi secara ilmiayah maka akan kabur dan bahkan di terim oleh klng awam. jadi, afresiasi saya sama ustzd semoga lebih jauh mengkaji lagi. alamat website” aaqir.blogspot.com

    2. sangkot sirait Says:

      diskursus pluralisme agama tetap aktual dan relevan, tetapi untuk era belakangan ini, tampaknya, pluralisme agama yang banyak didasari oleh tradisi filsafat semakin banyak diragukan banyak orang. Tradisi filsafat kurang begitu mendapat apresiasi dalam masyarakat yang cara beragama mereka lebih formalistik, seprti halnya masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan etik, yakni fungsionalisasi agama, perlu dikembangkan dan lebih ditonjolkan.

    3. vegetarian Says:

      diskursus pluralisme agama tetap aktual dan relevan, tetapi untuk era belakangan ini, tampaknya, pluralisme agama yang banyak didasari oleh tradisi filsafat semakin banyak diragukan banyak orang. Tradisi filsafat kurang begitu mendapat apresiasi dalam masyarakat yang cara beragama mereka lebih formalistik, seprti halnya masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan etik, yakni fungsionalisasi agama, perlu dikembangkan dan lebih ditonjolkan.

    4. Irfan Says:

      Pluralisme agama….apa itu pluralisme..?
      Kecenderungan Manusia, memang selalu ingin tampil beda, walaupun persoalan lama.’setidaknya kemasannya baru.

    5. Daryaman Says:

      pluralisme adalah suatu kenyataan yang sebaiknya diperkenalkan kepada generasi awal. menncpurkan adukan keyakinan adalah suatu kemungkaran dengan demikian dengan tetap memegang teguh keyakinan dan syariatnya dilaksanakan serta dengan mengadakan pembiaran kepada keyakinan orang lain merupakan makana sesungguhnya dari ” lakum dinukum Walyadien” jika pluralisme disikapi dengan saling curiga, saling salahkan dan saling melecehkan atau merasa yang ia yakini harus diyakini pula oleh orang lain justru akan menimbulkan konflik. yang paling penting adalah bagi mana kita sebagi umat islam menggambarkan wajah islam yang sesungguhnya kepada generasi muda tanpa adanyanya ekslusifisme golongan atau keyakinan.

    6. mirza Says:

      no pluralisme, yes pluralitas

    7. muminatus FF Says:

      Kalau gelombang pluralisme agama ini kian meningkat diantara generasi Islam, sepertinya rasa skeptis akan kepercayaan terhadap Islam akan terjadi penipisan dan kristenisasi yang mendasari gerakan tersebut mungkin saja akan semakin meningkat. Tetapi justifikasi dari umat Ismalam kanan yaitu fitnah atas plarisme ibnu a’rabi sudah marak dan menjadi simbol bagi JIL, padahal ibnu arabi tidak pernah memaparkannya, sungguh ane Islam pluralisme dimurtadkan kok mau aja…..!!!

    8. Ilhammudin Says:

      Ass.. Wr.wb.
      Pluralisme agama, paham yang cukup lama masuk dan berkembang di indonesia. Dari paham ini kita tahu bahwa aliran tersebut bertujuan ingin menyatukan umat di dunia, tapi sayang jalan yang di tempuh salah, yaitu dengan mendudukan kesamaan agama, padahal untuk akidah tidak boleh di samakan, dan untuk persatuan umat tidak harus dengan menya makan agama. Saya perlu belajar lebih banyak.

    9. benazir fathia audra Says:

      pluralisme agama menciptakan mindset yang sesat di umat kita saat ini, dan timbulnya anggapan tak semua orang islam baik dan tak semua orang kristen dan yahudi jahat , dan membuat kita toleran kepada mereka, padahal ketoleran kita akan sangat rentan untuk membuat kita mendukung kegiatan dan ritual agama mereka.

    10. ahdar hadi Says:

      Pluralisme dlm konteks sosial secara makro sah-sah saja, namun secara mikro umat Islam bersandar pada Al-Quran surat Al.Kafirun , ayat 6 secara tegas dan prinsipil bhw tdk ada kerjasama, toleransi dll dlm hal beribadah. Mengingat Islam adalah universal, maka bukan Islam yg hrs menyesuaikan dg yg lain, melainkan yg lain hrs menyesuaikan dg Islam, bila memang mengharapkan rahmatan lil alamin

    11. Budi Astomo Says:

      Pluralitas YES, Pluralisme NO

    12. muslim Says:

      manusia modern telah tersebar mendiami berbagai belahan dunia ini selama puluhan ribu tahun. selama itu pula mereka hidup dan berkembang menurut sunnatullah. Sekarang coba renungkan, kalau saja Allah hanya menurunkan nabi dan rasul hanya disekitar timteng selama berpuluh ribu tahun sementara umat manusia lain dibiarkan tanpa hidayah, mungkinkah? Pasti tidak mungkin karena Allah maha luas, mengetahui, adil, memberi petunjuk, dan maha-maha yang lain. Lebih jauh, ketika didalam masarakat di belahan dunia yang lain muncul manusia teladan yang bisa meninggikan derajat kemanusiaan lahir batin yang ahirnya disebut agama, seperti hindu dan buda di India, kon fu tse di cina dan begitu seterusnya pada ahirnya dianggap sesat dan diberi dua pilihan IKUT atau NERAKA, maka juga tidak mungkin. Sebab mustahil Tuhan menelantarkan mahluknya. Apalagi mereka juga diberi iman dalam hatinya dan fanatik terhadapnya persis sama dengan yang dirasakan manusia sekitar timur tengah. Agaknya, kenapa semua utusan tuhan berada di timteng hanya karena sumber beritanya orang timteng juga dan bukan sama sekali berarti bahwa Tuhan hanya menurunkan utusannya di daerah tersebut. Ksian nenek moyang kami sebaga manusia tiri tuhan. Ini lebih mustahil lagi. Renungkanlah !

    13. kusairi Says:

      Parahnya, pluralisme agama malah dianggap realitas dan sunnatullah

      hala tersebut memang benar kenyataanya, hanya saja dalam sebuah perbedaan tsb, tak ada etika dalam harga-menghargai antaranya…

    14. Jonny Walet ijo Says:

      Alquran itu ada dua ayat yang utama:
      1. Ayat Mukhamad itu adalah ayat yang nyata, misalnya ini singkong, bukan gaplek, dasrnya singkong ya iya ubah ujud dan penampilan.
      2. Aya Muthasyabihat, adalah ayat yang masih menjadi rahasia, yang mana maknanya masih belum terdeteksi dengan gamblan atau masih “maya” samar atau belum nyata, dan dalam alquran banyak orang yang meng_AKU Pinter mempercayai Aya muthasyabihat ini untuk menimbulkan fitnah dan mencari “taqwilnya” surat yang lengkap dalam bahasaindonesia adalah sebagai berikut berhubung saya orang indonesia pake bahasa indonesia saja kasian saya pake bahasa arab nanti malaikat saya perlu penterjemah lagi: Adapaun orang=orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan mereka mempercayai sebagian ayat muthasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari taqwilnya, dan orang-orang yang Meng-AKU pinterpun mengatakan inilah yang datang dari tuhanku dan tuhanmu padahal itu bukan dari sisiKU. jadi termasuk yang melemparkan kalumat Pruralisme ini juga sudah kena ayat diatas, untuk mencari kesonmbongan, dan untuk menyesatkan banyak “orang” sesunguhnya mereka itu adalah “MAKAR AGAMA” cuma itu tadi agama sekarang ini gak ada hakim(nabi) maka mereka mereka bisa bicara seenak bacotnya sendiri. kalau mau kafir jangan bawa-bawa orang mas….jadilah tujuh keturunan anda kafir…jangan bawa-bawa orang yang ingin beriman….emanngyya nabi ISA itu nenek moyangmu apa? Penganut, kata dasarnya ANUT=IKUT=MELU= tur jangan jadi IKUT-IKUTAN Ikutan NGEBOM, ikutan Tawuran,Ikutan DEMO, IKUTAN SESAT, jadilah dan ikutilah “kebenaran”, “ANA ALHAQ” Yang salah “SETAN DENGAN MANUSIA YANG BODOH” MAKSUDNYA SETAN LEBIH PINTER DARI MANUSIA TADI KARENA SETAN BIDSA BODOHI MANUSIA YANG KATANYA MANUSIA ITU PUNYA AKAL DAN MATAHATI MAKHLUK PALING SEMPURNA DIHADAPAN ALLAH TAPI SETELAH MATI MALAH KEMBALI KEPADA KELOMPOK JIN karena didunia cuma numpang makan,minum dan berak saja” setelah kena bencana baru menyebut kata “ALLAH” dan allah gak berkendak karena didalam hatinya “MUNAFIQUN” akhirnya matilah dia dalam kesengsaraan yang sangt pedih dimakan “WEDUS GEMBEL” baru wedus gembel belum sapi gembel, apalagi gajah gembel kayak apa lagi itu. demikian kitab-kitab itu kami turunkan untuk menjadikan petunjuk/Kompas/Panduan bagi orang-orang yang Ingin kembali kepada Tuhannya (ALLAH) Amin

    15. Jonny Walet ijo Says:

      Ini satu contoh “pruralisme” so saya bicara dari Nabi Adam ssamapi Nabi Muhammad namun Satu ketetapan Saya La Ila Ha Ilallah Muhammadurasulullah”. Saya ngak marahi NUH, saya gak marahi ISA, saya gak marahi Adam, Saya gak marshi MUSA tapi saya mengambil hikmah dan pelajaran dari mereka semua dan terucaplah satu ketetapan saya bahwa “LA ILA HA ILALLAH” dan saya perhatikan semakin banyak orang yang marifatullah semakin jauh mereka itu tersesat, sebab semakin berilmu semakin meningkalkan perintah dan larangan seperti tidak lagi mengerjakan “Sholah Wajib” (Ibadah ummat islam) karena yang mereka cari adalah ilmunya Allah bukan yang “Punya Ilmu” bagi saudara-saudara pencari yang haq SHOLAT itu mahal harganya, dulunya sebelum marifat semua sholat untuk mendapatkan Ilmu Allah/Karomah setelah dapat mereka serta merta meningalkan shola bahkan ada yang mengatakan sholat 5 waktu itu itu bukan lagi kewajiban bagi orang yang marifatullah apa benar? ini ayat Tuhan Atau Ayat Stan dimana dialquran itu mencatat Hai Golongan manusia Berhenti solatlah kamu jika sudah marifatullah, tetapi yang Sabar dan Sholat adalah Penolongmu. Jadi jangan bikin ayat sendiri, ini telah dilakukan oleh kaum yahudi berabad-abad yang lalu, Nabi isa tidak pernah mengatakan bahwa : Aku ini Tuhan dan sembahlah, tetapi Dia menyuruh Sembahlah Tuhan Alahmu dan tuhan Allahku, hati-hati jangan sampai mengangap diri beriman sekalinya orang yahudi lewat menapaki jalan yang lurus mendapatkan yang ber-”Sorban” ada dalam neraka Nauzubilah minzaliq karena salah “prasangka”.Salah “Sangkan paraningdumadi” akhirnya salah kaprah. rata-rata orang yang sudah masuk kemahabah marifatullah mengadakan dalil dan taqwil bahwa sholat bukan seuatu perintah bagi kaum marifatullah saya bingung anda itu manusia atau Tuhan, kalau Tuhan koq tercipta dari air yang hina(Mani), karena mereka itulah pengagum ILMU bukan Pengagum Allah apalagi Penegeak Agama “ALLAH” “Rumusnya salah pasti akan menghasilkan nilai yang salah” Wysywyg Apa yang kamu lihat itulah yang kamu dapatkan apa sangkamu itulah yang kamu dapatkan karena sesunguhnya rahasia allah itu tak terhinga, diatas-awan masih ada awan diatas orang pinter masih ada orang [pinter diatas orang bijaksana masih ada orang yang lebih bijaksana. demikian ilmu allah kalau mau dutlis maka 5 benua dan 7 samudra tidak akan sangup menulis kalamullah itu karena saking banyaknya. Rahasia Allah itu.

    16. sabiel muhammad Says:

      indonesia nerupakan negara nasional lebih jelasnya lagi bsa dikatakan bukan negara islam. Ada 6 keyakinan yang diresmikan oleh indonesia setelah KH. Abdurrohman wahid mengesahkan agama konh guchu sebagai salah satu agama yang diresmikan indonesia. Tapi bukan berarti dengan adanya beberapa agama yang terus kita boleh memadukannya menjadi satu kemudian menciptakan sebuah keyakinan baru itu sangat salah!!
      secara pribadi saya mendukung dengan adanya pluralitas agama demi terciptanya kedamaian dunia negara indonesia pastinya. tapi dengan adanya pluralisme agama membuat kedamaian dunia menjadi terusik!!

    17. makhfud Says:

      apapun namanya pluralis ataukah pluralisme,yang terpenting sampai seberapa jauh aplikasinya di kehidupan sehari – hari dalam berbangsa,bernegara,beragama,dan bermasyarakat yang pasti perbedaan itu pasti ada,bahwa semua agama itu benar,yes,sepanjang dijalankan dengan benar,karna tidak ada agama apapun yang mengajarkan kepada umatnya dalam hal kejelekan,itu penilaian di dunia,bagaimana di akhirat,mana yang benar ?,hanya ALLAH yang tahu,yang terpenting,jalankan ajaran agama dengan benar,yakinlah bahwa apa yang anda yakini itu BENAR,karna semua umat manusia hanya satu tujuan,bagaimana dia mempersiapkan diri untuk menghadap sang PENCIPTA kelak di akhirat nanti.

    18. AHMAD LUTFI Says:

      mumtaz,,,,,,,,,,,,,,,

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>